Standard

ANALISIS KESEMPATAN KERJA SEKTORAL
DI KABUPATEN ACEH TENGAH DAN PROYEKSI ANGKATAN KERJA DI PROVINSI ACEH

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas
Mata Kuliah Ekonomi Regional II

Oleh

IRWANTO (0701101010017)

FAKULTAS EKONOMI
LEMBAGA PENDIDIKAN NEGERI UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2010

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Penelitian
Pelaksanaan otonomi daerah secara resmi telah dinyatakan dimulai oleh pemerintah Republik Indonesia sejak 1 Januari 2001. berarti mulai saat itu pemerintahan dan pembangunan daerah di seluruh Nusantara telah memasuki era baru, yaitu era otonomi daerah. Pemberian wewenang yang lebih besar diberikan kepada pemerintah daerah, terutama kabupaten dan kota, sedangkan provinsi diberikan wewenang yang terbatas dalam pengelolaan pembangunan yang bersifat lintas kabupaten dan kota. Kewenangan pemerintah pusat di batasi hanya pada 5 sektor yaitu pertahanan dan keamanan, politik luar negeri, fiskal dan moneter, peradilan serta agama. Dengan demikian, kegiatan pembangunan daerah selain diberikan kepada pemerintah pusat dan provinsi akan menjadi wewenang pemerintah daerah (kabupaten/kota). Hal ini berimplikasi terhadap kreativitas setiap daerah untuk menyusun dan suatu perencanaan daerah secara aspiratif serta sesuai dengan situasi dan kondisi daerahnya masing-masing. Perencanaan yang sesuai dengan karakteristik daerah akan mempercepat pembangunan daerah dan diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat daerah yang bersangkutan.
Pembangunan daerah pada bidang ekonomi dititikberatkan untuk mengurangi tingkat kemiskinan, meningkatkan penyediaan lapangan kerja, memperbaiki kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan, dan mengurangi ketimpangan antar daerah. Dan yang paling utama bagi suatu daerah adalah penciptaan lapangan kerja (Syaukani dkk, 2002, 222). Keberhasilan sebuah pemerintahan salah satunya dilihat dari seberapa jauh pemerintahan tersebut berhasil menciptakan lapangan kerja bagi masyarakatnya, sehingga dengan begitu kesempatan kerja akan meningkat dan mendorong daya beli masyarakat yang pada akhirnya kesejahteraan masyarakat juga akan meningkat.
Kabupaten Aceh Tengah sebagai salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Aceh juga memiliki kewenangan otonomi seperti kabupaten/kota lainnya di nusantara. Dengan demikian pemerintah kabupaten Aceh Tengah di tuntut untuk lebih kreatif dalam menyusun perencanaan pembangunan daerah agar sesuai dengan karakteristik daerahnya, khususnya kemampuan menciptakan kesempatan kerja untuk mencapai pertumbuhan ekonomi Kabupaten Aceh Tengah yang tinggi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Ini akan menjadi proses yang merupakan suatu tantangan karena di lihat dari beberapa indikator makro yang dimiliki oleh kabupaten Aceh Tengah menunjukkan kondisi yang belum optimal.
Indikator yang umum di gunakan untuk melihat tingkat kesejahteraan masyarakat atau perekonomian suatu daerah adalah pendapatan regionalnya. Perkembangan Pendapatan Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Aceh Tengah selama lima tahun terakhir ini dapat kita lihat pada tabel 1 di mana rata-rata pertumbuhan PDRB Kabupaten Aceh Tengah bisa dikatakan relatif tinggi di antara 23 Kabupaten/Kota lainnya di Provinsi Aceh meskipun masih ada kabupaten/kota lain yang lebih tinggi. Dengan demikian timbul pertanyaan, apakah dengan angka pertumbuhan PDRB yang relatif tinggi tersebut sudah memperlihatkan suatu kondisi perekonomian yang bisa menyejahterakan rakyatnya, sudahkah tersedianya lapangan kerja yang cukup.
Di samping pendapatan regional, kondisi perekonomian suatu daerah juga dapat di lihat dari banyaknya masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Berdasarkan data hasil survey tentang data dan informasi kemiskinan 2007 yang dilakukan oleh BPS terlihat bahwa jumlah penduduk miskin di Kabupaten Aceh Tengah yaitu 39,9 juta orang (24,41%) meskipun bukan yang terbesar jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya di Provinsi Aceh hal ini harus sangat diperhatikan oleh pemerintah daerah, sebagai pedoman dalam pengambilan kebijakan di daerah tersebut. Indikator-indikator makro seperti ini merupakan tantangan yang harus dijawab oleh para pengambil atau perancang kebijakan perekonomian di Kabupaten Aceh Tengah guna mencapai kesejahteraan masyarakat dan kondisi perekonomian yang stabil. Langkah awal yang dapat ditempuh untuk memulai semua itu adalah dengan mengetahui kesempatan kerja sektoral yang ada di Kabupaten Aceh Tengah, dengan demikian kita bisa mengetahui arah yang tepat yang harus dilakukan untuk menciptakan lapangan kerja.

Tabel 1
Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten/Kota Se-Provinsi Aceh
Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2003-2007
No Kab/Kota 2003 2004 2005 2006 2007 rata-rata
1 Simelue 1,83 2,14 0,73 1,26 2,31 1,65
2 Aceh Singkil 5,00 4,87 3,8 4,32 5,12 4,62
3 Subulussalam – – – – 4,4 0,88
4 Aceh Selatan 3,37 4,38 3,76 2,99 12,49 5,40
5 Aceh Barat Daya – 3,01 2,58 3,14 27,14 7,17
6 Aceh Tenggara 4,80 6,03 8,60 7,12 4,88 6,29
7 Gayo Lues – 3,89 4,32 4,55 20,25 6,60
8 Aceh Timur 3,10 3,1 4,87 3,16 3,29 3,50
9 Langsa 3,69 4,17 3,92 3,66 3,93 3,87
10 Aceh Tamiang – 4,22 5,97 3,40 19,65 6,65
11 Aceh Tengah 2,69 3,20 10,38 7,84 5,75 5,97
12 Bener Meriah – – 2,58 4,14 4,23 2,19
13 Aceh Barat 3,49 9,11 -13,15 8,65 13,63 4,35
14 Nagan Raya – 12,74 -3,89 8,26 8,49 5,12
15 Aceh Jaya – 3,84 -33,87 2,83 3,07 -4,83
16 Aceh Besar 4,11 4,20 1,59 3,67 4,29 3,57
17 Pidie 2,26 3,96 3,08 3,65 4,22 3,43
18 Pidie Jaya – – – – 2,93 0,59
19 Bireun 2,82 3,49 2,49 8,69 4,04 4,31
20 Aceh Utara 1,64 3,40 -5,43 3,17 2,92 1,14
21 Lhokseumawe 3,29 3,20 5,45 3,26 6,50 4,34
22 Banda Aceh 5,58 6,59 1,62 4,97 5,74 4,90
23 Sabang 4,16 4,52 4,63 4,75 4,79 4,57
Aceh 3,70 1,76 1,22 7,70 7,46 4,37
Sumber: BPS Provinsi Aceh
1.2. Perumusan Masalah
Salah satu indikator pertumbuhan ekonomi adalah PDRB yang menunjukkan kenaikan tingkat output total yang dihasilkan oleh suatu daerah. Peningkatan output dapat dilakukan melalui peningkatan kesempatan kerja. Kesempatan kerja meningkat akan berpengaruh pada peningkatan daya beli masyarakat sehingga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Agar semua ini bisa tercapai maka perlu dilakukan analisis kesempatan kerja di kabupaten Aceh Tengah:
1. Berapakah kesempatan kerja nyata di kabupaten Aceh Tengah yang dipengaruhi oleh laju pertumbuhan kesempatan kerja di Provinsi Aceh, bauran industri, dan keunggulan kompetitif yang di miliki?
2. sektor-sektor manakah sebagai sektor basis yaitu sektor yang memiliki kesempatan kerja lebih dari yang berkecukupan.
3. Berapakah besarnya pertambahan kesempatan kerja total sebagai akibat dari adanya pertambahan kesempatan kerja di sektor basis?
4. Bagaimana kondisi angkatan kerja di Provinsi Aceh?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan masalah yang telah di kemukakan di atas, adapun tujuan penelitian adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui kesempatan kerja nyata di Kabupaten Aceh Tengah yang dipengaruhi oleh laju pertumbuhan kesempatan kerja di Provinsi Aceh, bauran industri, dan keunggulan kompetitif yang dimiliki.
2. Mengetahui sektor-sektor basis yaitu sektor yang memiliki kesempatan kerja yang berkecukupan.
3. mengetahui besarnya pertambahan lapangan kerja total sebagai akibat dari adanya pertambahan lapangan kerja di sektor basis.
4. Melakukan Proyeksi untuk melihat perkembangan angkatan kerja kerja di masa depan di mana proyeksi dilakukan dari tahun 2008-2020.
1.4. Manfaat Penelitian
Penelitian yang dilakukan ini memiliki kegunaan sebagai berikut :
1. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah, terutama para pengambil keputusan maupun pelaksana pembangunan daerah dalam penyusunan perencanaan daerah untuk ke depannya.
2. sebagai bahan referensi baik bagi mahasiswa maupun untuk dikembangkan sehingga dapat menjadi pedoman untuk menggerakkan ekonomi daerah juga sebagai bahan penelitian awal bagi penelitian berikutnya.

BAB II
STUDI KEPUSTAKAAN
2.1 Teori Pembangunan Ekonomi Daerah
Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses di mana pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola sumberdaya-sumberdaya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut ( Arsyad, 1999:108).
Pembangunan ekonomi daerah berorientasi pada proses. Suatu proses yang melibatkan pembentukan institusi baru, pembangunan industri alternatif, perbaikan kapasitas tenaga kerja yang ada untuk menghasilkan produk yang lebih baik, identifikasi pasar-pasar baru, dan transformasi pengetahuan.
Dalam penelitian ini penulis mencoba melihat Berapakah kesempatan kerja nyata di kabupaten Aceh Tengah yang dipengaruhi oleh laju pertumbuhan kesempatan kerja di Provinsi Aceh.
2.2 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah
Pertumbuhan ekonomi wilayah adalah pertambahan pendapatan masyarakat yang terjadi di suatu wilayah, yaitu kenaikan seluruh nilai tambah (added value) yang terjadi di wilayah tersebut (Robinson Tarigan 2005 : 46).
Perhitungan pendapatan wilayah pada awalnya dibuat dalam harga berlaku. Namun agar dapat melihat pertambahan dari kurun waktu ke kurun waktu berikutnya, harus dinyatakan dalam nilai riil, artinya dinyatakan dalam harga konstan. Pendapatan wilayah menggambarkan balas jasa bagi faktor-faktor produksi yang beroperasi di daerah tersebut (tanah, modal, tenaga kerja, dan teknologi), yang berarti secara kasar dapat menggambarkan kemakmuran daerah tersebut. Kemakmuran suatu wilayah selain ditentukan oleh besarnya nilai tambah yang tercipta di wilayah tersebut juga oleh seberapa besar terjadi transfer payment, yaitu bagian pendapatan yang mengalir ke luar wilayah atau mendapat aliran dana dari luar wilayah.
Selain itu terdapat beberapa teori pertumbuhan ekonomi daerah/wilayah sebagai berikut:
1. Teori Pertumbuhan Klasik
Adam Smith adalah orang pertama yang membahas pertumbuhan ekonomi secara sistematis. Inti ajaran Smith adalah agar masyarakat diberi kebebasan yang seluas-luasnya dalam menentukan kegiatan ekonomi yang terbaik untuk dilakukan. Menurut Smith sistem ekonomi pasar bebas akan menciptakan efisiensi, membawa ekonomi kepada kondisi full employment dan menjamin pertumbuhan ekonomi sampai tercapai posisi stationer. Sementara peranan pemerintah adalah menjamin keamanan dan ketertiban serta memberi kepastian hukum dan keadilan bagi para pelaku ekonomi. John Maynard Keynes mengoreksi pandangan Smith dengan mengatakan bahwa untuk menjamin pertumbuhan yang stabil pemerintah perlu menerapkan kebijaksanaan fiskal, kebijaksanaan moneter, dan pengawasan langsung.
2. Teori Pertumbuhan Neo-Klasik
Teori pertumbuhan neo klasik dikembangkan oleh Robert M. Solow (1970) dari Amerika Serikat dan TW. Swan (1956) dari Australia. Menurut teori ini tingkat pertumbuhan berasal dari 3 sumber yaitu akumulasi modal, bertambahnya penawaran tenaga kerja dan peningkatan teknologi. Teori neo klasik sebagai penerus dari teori klasik menganjurkan agar kondisi selalu diarahkan untuk menuju pasar sempurna. Dalam keadaan pasar sempurna perekonomian bisa tumbuh maksimal. Analisis lanjutan dari paham neo klasik menunjukkan bahwa terciptanya suatu pertumbuhan yang mantap (steady growth), diperlukan suatu tingkat s (saving) yang pas dan seluruh keuntungan pengusaha diinvestasikan kembali di wilayah itu.
3. Teori Harrod-Domar dalam sistem regional
Teori ini dikembangkan pada waktu yang hampir bersamaan oleh Roy F. Harrod (1948) di Inggris dan Evsey D. Domar (1957) di Amerika Serikat. Teori ini didasarkan atas asumsi :
a. Perekonomian bersifat tertutup,
b. Hasrat menabung (MPS = s) adalah konstan,
c. Proses produksi memiliki koefisien yang tetap, serta
d. Tingkat pertumbuhan angkatan kerja (n) adalah konstan dan sama dengan tingkat pertumbuhan penduduk.
Atas dasar asumsi-asumsi tersebut, Harrod-Domar membuat analisis dan menyimpulkan bahwa pertumbuhan jangka panjang yang mantap (seluruh kenaikan produksi dapat diserap oleh pasar) hanya bisa tercapai apabila terpenuhi syarat-syarat keseimbangan sebagai berikut :
g = k = n,
Dimana : g = growth (tingkat pertumbuhan output)
k = capital (tingkat pertumbuhan modal)
n = tingkat pertumbuhan angkatan kerja
4. Teori Pertumbuhan Jalur Cepat Yang Disinergikan
Teori Pertumbuhan Jalur Cepat (Turnpike) diperkenalkan oleh Samuelson (1955). Setiap negara/wilayah perlu melihat sektor/komoditi apa yang memiliki potensi besar dan dapat dikembangkan dengan cepat, baik karena potensi alam maupun karena sektor itu memiliki competitive advantage untuk dikembangkan. Artinya dengan kebutuhan modal yang sama sektor tersebut dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar, dapat berproduksi dalam waktu relatif singkat dan volume sumbangan untuk perekonomian yang cukup besar. Agar pasarnya terjamin, produk tersebut harus dapat menembus dan mampu bersaing pada pasar yang lebih luas. Perkembangan struktur tersebut akan mendorong sektor lain untuk turut berkembang sehingga perekonomian secara keseluruhan akan tumbuh. Mensinergikan sektor-sektor adalah membuat sektor-sektor saling terkait dan saling mendukung sehingga pertumbuhan sektor yang satu mendorong pertumbuhan sektor yang lain, begitu juga sebaliknya. Menggabungkan kebijakan jalur cepat dan mensinergikannya dengan sektor lain yang terkait akan mampu membuat perekonomian tumbuh cepat.
5. Teori Basis Ekonomi
Teori basis ekspor murni dikembangkan pertama kali oleh Tiebout. Teori ini membagi kegiatan produksi/jenis pekerjaan yang terdapat di dalam satu wilayah atas sektor basis dan sektor non basis. Kegiatan basis adalah kegiatan yang bersifat exogenous artinya tidak terikat pada kondisi internal perekonomian wilayah dan sekaligus berfungsi mendorong tumbuhnya jenis pekerjaan lainnya. Sedangkan kegiatan non basis adalah kegiatan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah itu sendiri. Oleh karena itu, pertumbuhannya tergantung kepada kondisi umum perekonomian wilayah tersebut. Artinya, sektor ini bersifat endogenous (tidak bebas tumbuh). Pertumbuhannya tergantung kepada kondisi perekonomian wilayah secara keseluruhan (Tarigan, 2004:53). Analisis basis ekonomi adalah berkenaan dengan identifikasi pendapatan basis (Richardson, 1977: 14). Bertambah banyaknya kegiatan basis dalam suatu wilayah akan menambah arus pendapatan ke dalam wilayah yang bersangkutan, yang selanjutnya menambah permintaan terhadap barang atau jasa di dalam wilayah tersebut, sehingga pada akhirnya akan menimbulkan kenaikan volume kegiatan non basis. Sebaliknya berkurangnya aktivitas basis akan mengakibatkan berkurangnya pendapatan yang mengalir ke dalam suatu wilayah, sehingga akan menyebabkan turunnya permintaan produk dari aktivitas non basis. Teori basis ekonomi mendasarkan pandangannya bahwa laju pertumbuhan ekonomi suatu wilayah ditentukan oleh besarnya peningkatan ekspor dari wilayah tersebut. Pertumbuhan industri-industri yang menggunakan sumber daya lokal, termasuk tenaga kerja dan bahan baku untuk diekspor, akan menghasilkan kekayaan daerah dan penciptaan peluang kerja (Arsyad, 1999:300). Asumsi ini memberikan pengertian bahwa suatu daerah akan mempunyai sektor unggulan apabila daerah tersebut dapat memenangkan persaingan pada sektor yang sama dengan daerah lain sehingga dapat menghasilkan ekspor.
Untuk menganalisis basis ekonomi suatu wilayah, salah satu teknik yang lazim digunakan adalah kuosien lokasi (Location Quotient, LQ). Location Quotient digunakan untuk mengetahui seberapa besar tingkat spesialisasi sektor-sektor basis atau unggulan (leading sectors). Dalam teknik LQ berbagai peubah (faktor) dapat digunakan sebagai indikator pertumbuhan wilayah, misalnya kesempatan kerja (tenaga kerja) dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) suatu wilayah.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dalam penelitian ini adalah Provinsi Aceh, khususnya Kabupaten Aceh Tengah. Kabupaten Aceh Tengah adalah salah Kabupaten yang ada di Provinsi Aceh yang terletak di antara 4010” sampai 4058” Lintang selatan dan 96018” sampai 96022” Bujur Timur. Aceh Tengah merupakan Kabupaten yang terletak di tengah-tengah Provinsi Aceh dengan wilayah yang didominasi dengan pegunungan. Luas wilayah Kabupaten Aceh Tengah adalah 4.318,39 km2 dan daerahnya merupakan dataran tinggi dan berhawa sejuk. Secara administratif Kabupaten Aceh Tengah terbagi menjadi 14 kecamatan, 2 kelurahan, dan 266 Desa dengan total penduduk 170.766 jiwa.
3.2 Sumber dan Jenis Data
Jenis data yang dipakai dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh melalui studi kepustakaan dengan mempelajari beberapa literatur yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti guna memperkuat atau mendukung penelitian. Sumber data dalam penelitian ini adalah Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh.

3.3. Teknik Analisis Data
Sesuai dengan tujuan penelitian secara keseluruhan yaitu untuk menganalisis kesempatan kerja di Kabupaten Aceh Tengah, maka terdapat beberapa Teknik analisis yang digunakan, di antaranya:
3.3.1 Analisis Shift-Share (S-S)
Analisis Shift-Share digunakan untuk menganalisis dan mengetahui pergeseran dan peranan perekonomian di daerah. Metode ini dipakai untuk mengamati struktur perekonomian dan pergeseran dengan cara menekankan pertumbuhan sektor di daerah, yang dibandingkan dengan sektor yang sama pada tingkat daerah yang lebih tinggi atau nasional.
Model yang di pakai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut ( Soepomo, 1993: 44):
Dij = Nij + Mij + Cij (1)
Berdasarkan persamaan di atas, maka dapat kita jelaskan Dij adalah perubahan kesempatan kerja sektor i di Kabupaten Aceh Tengah yang merupakan penjumlahah dari komponen pengaruh pertumbuhan Provinsi Aceh Nij, komponen bauran industri Mij, dan komponen pengaruh keunggulan kompetitif Cij.
Nij = Eij . rn (2)
Mij = Eij (rin – rn) (3)
Cij = Eij (rij – rin) (4)
rn = (5)
rin = (6)
rij = (7)
Keterangan:
Eij = Kesempatan kerja di sektor i di Kabupaten Aceh Tengah tahun awal
E*ij = Kesempatan kerja di sektor i di Kabupaten Aceh Tengah tahun akhir
Ein = Kesempatan kerja sektor i di Provinsi Aceh tahun awal
E*in = Kesempatan kerja sektor i di Provinsi Aceh tahun akhir
En = Total kesempatan kerja di Provinsi Aceh tahun dasar
E*n = Total Kesempatan kerja di Provinsi Aceh tahun akhir
rn = Laju perubahan total kesempatan kerja di Provinsi Aceh
rin = Laju perubahan total kesempatan kerja sektor i di Provinsi Aceh
rij = Laju perubahan kesempatan kerja sektor i di Kabupaten Aceh Tengah.
3.3.2 Analisis Location Quotient (LQ)
Location Quotien adalah suatu metode untuk menghitung perbandingan relatif sumbangan nilai tambah sebuah sektor di suatu daerah (Kabupaten/Kota) terhadap sumbangan nilai tambah sektor bersangkutan dalam skala provinsi atau nasional (skala yang lebih besar). Teknik digunakan untuk mengidentifikasikan potensi internal yang dimiliki suatu daerah yaitu membaginya menjadi dua golongan yaitu sektor basis dan sektor non basis.
Perhitungan LQ dapat digunakan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
(8)
Keterangan:
Eij = Kesempatan kerja bersektor di Kabupaten Aceh Tengah
Ei = Kesempatan kerja total di Kabupaten Aceh Tengah
Ein = Kesempatan kerja persektor di Provinsi Aceh
En = Kesempatan kerja total di Provinsi Aceh
Berdasarkan analisis LQ dapat dianalisis dan disimpulkan sebagai berikut:
a. Jika LQ lebih besar dari satu (LQ > 1), maka sektor tersebut merupakan sektor basis dan berpotensi untuk ekspor, artinya spesialisasi kabupaten/kota lebih tinggi dari tingkat provinsi.
b. Jika LQ kurang dari satu (LQ < 1), maka sektor tersebut merupakan sektor non basis, yaitu sektor yang tingkat spesialisasinya lebih rendah dari provinsi.
c. Jika LQ sama dengan satu (LQ=1), berarti tingkat spesialisasi di kabupaten sama dengan di provinsi.
3.3.3 Pengganda Basis Lapangan kerja (Employment Base Multiplier)
Nilai Pengganda Basis Lapangan Kerja adalah nilai yang digunakan untuk melihat besarnya perubahan kesempatan kerja di sektor basis, dihitung dengan rumus:

Perubahan kesempatan kerja total yang ditimbulkan bisa lebih rinci lagi mengenai banyaknya lapangan kerja non basis yang tersedia. Ini dapat dihitung dengan rasio basis. Rasio basis adalah perbandingan antara banyaknya lapangan kerja non basis yang tersedia untuk setiap satu lapangan kerja basis (Tarigan, 2005, 30).
3.3.4 Analisis Time Series
Analisis Time Series merupakan analisis sekumpulan data dalam suatu periode waktu yang lampau yang berguna untuk mengetahui atau meramalkan kondisi masa mendatang. Hal ini di dasarkan bahwa perilaku manusia banyak dipengaruhi kondisi atau waktu sebelumnya. Sehingga faktor waktu sangat penting peranannya.
Menghitung nilai trend dapat dilakukan dengan beberapa metode, dalam tulisan ini akan dijelaskan tiga metode yang paling sering digunakan yaitu:
1. Trend Linier
Dalam metode ini perhitungan nilai trend dilakukan dengan menggunakan persamaan sebagai berkut:
Yt = a + bX (9)

Dimana:
Yt = Nilai trend untuk periode tertentu
a,b = Bilangan konstan
X = waktu (hari, minggu, bulan, triwulan, tahun)
Nilai a dan b diperoleh dari:
a = (10)
b = (11)
dimana n adalah banyaknya pasangan data.
2. Trend Kuadratis
Menghitung nilai trend dengan metode ini dilakukan dengan menggunakan persamaan:
Yt = a + bX + cX2 (12)
Dimana:
Yt = Nilai trend untuk periode tertentu
a,b,c = Bilangan konstan
X = waktu (hari, minggu, bulan, triwulan, tahun)
Nilai a, b dan c dapat diperoleh dari:
a = (13)
b = (14)
c = (15)
3. Trend Eksponensial
Perhitungan nilai trend dengan menggunakan metode ini dapat dilakukan dengang menggunakan persamaan sebagai berikut:
Yt = a(1 + b)X (16)
persamaan ini digunakan untuk variabel diskrit.
Yt = a . exp(bX) (17)
Persamaan ini digunakan untuk variabel kontinyu.
Dimana:
Yt = Nilai trend untuk periode tertentu
a,b, = Bilangan konstan
X = waktu (hari, minggu, bulan, triwulan, tahun)
Nilai a dan b diperoleh dari:
a = anti Ln (18)
b = anti Ln (19)
Dari ke tiga metode time series di atas mana yang paling baik? Untuk menentukannya harus dipilih metode yang mempunyai drajat kesalahan paling kecil yaitu yang mempunyai selisih yang paling kecil antara data asli dan data hasil estimasi.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisis Shift-Share
Kesempatan kerja di Kabupaten Aceh Tengah selama periode 2000-2007 seperti yang terlihat pada tabel 2, menunjukkan peningkatan sebesar 4,14% dan peningkatan ini lebih tinggi dibandingkan peningkatan kesempatan kerja yang terjadi di Provinsi Aceh yaitu sebesar 3,46% di mana seluruh sektor ekonomi di Kabupaten Aceh Tengah memiliki perubahan yang positif, berbeda dengan kesempatan kerja di tingkat provinsi terdapat 2 sektor yang mengalami perubahan yang negatif, yaitu sektor pertambangan dan penggalian serta sektor industri dan pengolahan masing-masing mengalami penurunan -0,41% dan -0,54%.

Tabel 2
Perubahan Kesempatan Kerja Persektor di
Kabupaten Aceh Tengah
Tahun 2000-2007
No Lapangan Usaha Kabupaten Aceh Tengah Perubahan Provinsi Aceh Perubahan
2000 2007 Absolut Persen 2000 2007 Absolut Persen
(Eij) (E*ij) (orang) (rij) (Ein) (E*in) (orang) (rin)
1 Pertanian 370,845.50 502,773.53 131,928.03 0.36 6,983.02 8,262.81 1,279.79 0.18
2 Pertambangan dan Penggalian 5,491.79 7,120.26 1,628.47 0.30 12,225.50 7,243.96 (4,981.54) (0.41)
3 Industri Pengolahan 17,494.59 24,605.83 7,111.24 0.41 9,758.46 4,491.75 (5,266.71) (0.54)
4 Listrik dan air minum 3,800.03 4,147.35 347.32 0.09 43.64 82.06 38.42 0.88
5 Bangunan 78,986.77 108,935.44 29,948.67 0.38 1,748.66 2,147.33 398.67 0.23
6 Perdaganan, Hotel, dan Restouran 77,685.16 112,858.43 35,173.27 0.45 4,288.19 5,665.99 1,377.80 0.32
7 Pengangkutan dan Komunikasi 44,120.83 61,234.39 17,113.56 0.39 1,268.47 2,136.46 867.99 0.68
8 Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 7,547.22 18,002.49 10,455.27 1.39 232.06 523.43 291.37 1.26
9 Jasa-jasa 96,010.20 133,125.43 37,115.23 0.39 2,953.36 5,484.32 2,530.96 0.86
Total 701,982.09 972,803.15 270,821.06 4.14 39,501.36 36,038.11 (3,463.25) 3.46

Hal yang menarik adalah sektor pertanian yang mengalami peningkatan kesempatan kerja secara absolut yang paling tinggi jika di banding dengan sektor lainnya di Kabupaten Aceh Tengah dan dapat kita lihat bahwa kesempatan kerja secara sektoral di Kabupaten Aceh Tengah dan Provinsi Aceh secara umum bergerak searah meskipun ada dua sektor yang tidak bergerak secara searah yaitu sektor pertambangan dan penggalian serta sektor industri pengolahan.
Melalui analisis shift-share (tabel 3), kesempatan kerja nyata yang terjadi di Kabupaten Aceh Tengah dapat dilihat berdasarkan komponen-komponen yang mempengaruhinya seperti komponen pertumbuhan kesempatan kerja Provinsi Aceh, komponen bauran industri, dan komponen keunggulan kompetitif.
Laju pertumbuhan kesempatan kerja di Provinsi Aceh adalah sebesar 3,46% tidak menciptakan kesempatan kerja di Kabupaten Aceh Tengah sama sekali, bahkan mengurangi kesempatan kerja di Kabupaten Aceh Tengah sebesar 61.545 orang. Dan sektor yang paling besar mengurangi kesempatan kerja sebagai pengaruh dari pertumbuhan kesempatan kerja di provinsi adalah sektor pertanian dan yang terendah adalah sektor listrik dan air minum. Pada sektor pertanian telah mengurangi kesempatan kerja bagi 32.513,58 orang sedangkan di sektor listrik dan air minum hanya mengurangi kesempatan kerja bagi 333,17 hal ini tentu saja merupakan fenomena bagi kita semua.
Pengaruh bauran industri merupakan komponen pertumbuhan sektoral yang timbul karena perbedaan permintaan tenaga kerja, ketersediaan bahan baku, kebijakan sektoral, serta pelaku dan kinerja struktur pasar setiap sektor wilayah. Secara absolut, bauran industri bernilai positif yang berarti pengaruh ini menyebabkan jumlah kesempatan kerja yang tercipta di Kabupaten Aceh Tengah menjadi bertambah sebanyak 286.090,87 orang. Namun demikian, terdapat dua sektor yang mengurangi kesempatan kerja di Kabupaten Aceh Tengah Akibat pengaruh bauran industri yaitu industri pertambangan dan penggalian serta industri pengolahan dan yang paling banyak mengurangi kesempatan kerja di Kabupaten Aceh Tengah akibat pengaruh bauran industri adalah sektor industri dan pengolahan masing-masing sebesar 1.756,26 dan 7.908,13 orang. Penurunan kesempatan kerja terbesar yang disebabkan oleh pengaruh bauran industri terjadi pada sektor Industri dan pengolahan di mana selama kurun waktu 8 tahun sektor ini telah mengurangi penurunan kesempatan kerja bagi 7.908,13 orang.
Selain karena pengaruh bauran industri pertumbuhan di tingkat provinsi dan bauran industri, perubahan kesempatan kerja nyata di Kabupaten Aceh Tengah juga di pengaruhi oleh keunggulan kompetitif yang dimiliki. Keunggulan ini muncul dilihat dari dua sisi, yang pertama, sektor-sektor mampu berproduksi dengan biaya perunit yang lebih murah dibandingkan dengan produk yang sama pada daerah lain. Kedua, sektor-sektor mampu memproduksi barang dengan kualitas yang lebih baik dibanding dengan daerah lain (Sjafrizal, 2008: 236).

Tabel 3
¬analisis Shift-shere Kabupaten Aceh Tengah
Tahun 2000-2007
No Lapangan Usaha Komponen Pertumbuhan Provinsi Komponen Bauran Industri Komponen Keunggulan Komparatif Kesempatan Kerja Nyata
(Nij) (Mij) (Cij) (Dij)
1 Pertanian -32.513,58 100.479,07 63.962,54 131.928,03
2 Pertambangan dan Penggalian -481,49 (1.756,26) 3.866,22 1.628,47
3 Industri Pengolahan -1.533,82 (7.908,13) 16.553,19 7.111,24
4 Listrik dan air minum -333,17 3.678,65 (2.998,17) 347,32
5 Bangunan -6.925,10 24.932,98 11.940,79 29.948,67
6 Perdaganan, Hotel, dan Restouran -6.810,98 31.771,31 10.212,95 35.173,27
7 Pengangkutan dan Komunikasi -3.868,26 34.059,31 (13.077,49) 17.113,56
8 Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan -661,70 10.137,84 979,13 10.455,27
9 Jasa-jasa -8.417,62 90.696,10 (45.163,25) 37.115,23
Total (61.545,72) 286.090,87 46.275,91 270.821,06
Sumber : Tabel 2, diolah
Akibat keunggulan kompetitif yang dimiliki, Kabupaten Aceh Tengah mampu menciptakan kesempatan kerja baru bagi 46.275,91 orang. Sektor terbesar yang menciptakan kesempatan kerja baru akibat keunggulan kompetitif yang dimiliki adalah sektor pertanian yang mampu menciptakan kesempatan kerja baru mencapai 63.962,54 orang. Namun tidak semua sektor memiliki keunggulan kompetitif di mana sektor-sektor tersebut adalah listrik dan air minum, pengangkutan dan komunikasi, serta sektor jasa-jasa.
Secara keseluruhan kesempatan kerja nyata di Kabupaten Aceh Tengah yang tercipta selam kurun waktu 8 tahun (2000-2007) sebanyak 270.821,06 orang. Ini dipengaruhi komponen bauran industri sebanyak 286.090,87 dan keunggulan kompetitif sebanyak 46.275,91 orang namun tidak dengan pertumbuhan provinsi. Komponen ini justru mengurangi kesempatan kerja nyata di Kabupaten Aceh Tengah sebesar 61.545,72 orang.
4.2 Analisis Location Quotient (LQ)
Berdasarkan analisis LQ yang diperoleh sektor-sektor yang merupakan sektor basis dan sektor non basis di Kabupaten Aceh Tengah seperti terlihat pada tabel 4, sektor yang merupakan sektor non basis adalah sektor pertambangan dan penggalian serta industri dan pengolahan, karena hanya dua sektor tersebut yang menjadi sektor non basis maka sisanya adalah sektor basis. Sektor-sektor tersebut di antaranya adalah sektor pertanian, sektor listrik dan air minum, sektor bangunan, sektor perdagangan, hotel, dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan, serta sektor jasa-jasa.

Tabel 4
Koefisien Location Quotient
Kabupaten Aceh Tengah
2000-2007
No Lapangan Usaha Locatoin Quotient

2000 2007
1 Pertanian 2,99 2,25
2 Pertambangan dan Penggalian 0,03 0,04
3 Industri Pengolahan 0,10 0,20
4 Listrik dan air minum 4,90 1,87
5 Bangunan 2,54 1,88
6 Perdaganan, Hotel, dan Restouran 1,02 0,74
7 Pengangkutan dan Komunikasi 1,96 1,06
8 Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 1,83 1,27
9 Jasa-jasa 1,83 0,90
Total 17,19 10,22
Sumber: Tabel 2, diolah.
Pada akhir tahun periode penelitian (2007), sektor pertambangan dan penggalian serta sektor industri pengolahan tetap menjadi sektor non basis dan yang sangat mengecewakan lagi terjadi penurunan dengan bertambahnya dua sektor lagi yang menjadi sektor non basis sektor tersebut adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran serta sektor jasa-jasa.
4.3 Analisis Pengganda Basis Lapangan Kerja
Nilai Pengganda Basis Kesempatan Kerja menunjukkan besarnya total kesempatan kerja yang terjadi jika adanya perubahan pada sektor basis. Hasil perhitungan pada tabel 5 menunjukkan bahwa besarnya angka pengganda kesempatan kerja di Kabupaten Aceh Tengah pada tahun 2000 sebesar 1,01 dan pada tahun 2007 mengalami kenaikan menjadi 1,22. Angka 1,01 ditafsirkan bahwa jika kesempatan kerja sektor basis meningkat 100 persen akan mengakibatkan pertambahan kesempatan kerja total sebesar 101 persen yaitu 100 persen di sektor basis dan sektor non basis 1 persen.
Nilai pengganda basis kesempatan kerja di Kabupaten Aceh Tengah tahun 2007 mengalami peningkatan menjadi 1,22. Ini berarti peningkatan kesempatan kerja sektor basis sebesar 100 persen akan meningkatkan kesempatan kerja total sebesar 122 persen, yaitu 100 persen di sektor basis dan 22 persen di sektor non basis.
Peningkatan ini mengindikasikan bahwa kemampuan sektor basis dalam menciptakan lapangan kerja baru semakin meningkat. Oleh karena, sektor-sektor yang telah menjadi sektor basis harus dipertahankan jangan sampai terjadi penurunan dan terus mengusahakan sektor agar sektor yang lain juga bisa menjadi sektor basis dan tetap bisa bersaing dengan daerah lain.

Tabel 5
Angka Pengganda Basis Lapangan Kerja
Kabupaten Aceh Tengah
2000-2007
No Komponen Perhitungan 2000 2007
1 Kesempatan Kerja Basis 17,07 8,34
2 Kesempatan Kerja Non Basis 0,13 1,88
3 Total Kesempatan Kerja 1+2 17,19 10,22
4 Pengganda Basis Kesempatan Kerja 3 : 1 1,01 1,22
5 Rasio Basis 2 : 1 0,01 0,22


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
1. Kesempatan kerja nyata di Kabupaten Aceh Tengah dipengaruhi secara negatif oleh pertumbuhan kesempatan kerja di Provinsi Aceh. Berarti komponen tersebut akan mengurangi kesempatan kerja yang terjadi di Kabupaten Aceh Tengah, sedangkan komponen bauran industri, dan komponen keunggulan kompetitif berpengaruh positif terhadap kesempatan kerja nyata di Kabupaten Aceh Tengah. Ini berarti kedua komponen tersebut akan menambah kesempatan kerja yang terjadi di Kabupaten Aceh Tengah.
2. Sektor basis kesempatan kerja di Kabupaten Aceh Tengah pada tahun awal penelitian adalah semua sektor selain sektor pertambangan dan penggalian serta sektor listrik dan air minum. Sedangkan pada tahun akhir penelitian sektor non basis bertambah menjadi 4 sektor, sektor yang bertambah itu adalah sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor jasa-jasa.
5.2 Saran
1. Informasi mengenai sektor basis sangat penting karena sektor basis mampu memberikan gambaran mengenai potensi dan karakteristik sektor-sektor ekonomi sebagai salah satu acuan dalam menyusun perencanaan daerah. Sektor-sektor basis memiliki kemampuan yang cukup tinggi untuk menciptakan kesempatan kerja, menghasilkan produk yang memenuhi kebutuhan lokal maupun ekspor sehingga sektor ini akan memacu pertumbuhan ekonomi daerah yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu diperlukan kebijakan-kebijakan daerah yang mendukung berkembangnya sektor basis dengan harapan nantinya sektor ini juga akan mampu mendorong sektor-sektor non basis

DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Licolin. 19999. Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi Daerah.. Edisi Pertama. Yogyakarta. BPFE
BPS. 2008. PDRB Kabupaten Aceh Tengah. Banda Aceh: Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh.
BPS. 2006. PDRB Kabupaten Aceh Tengah. Banda Aceh: Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh.
BPS. 2009. Berita Resmi Statistik. NAD. Penduduk Miskin. Banda Aceh: Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh.
BPS. 2008. PDRB Provinsi Aceh. Banda Aceh: Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh.
BPS. 2008. PDRB Kabupaten/Kota di Indonesia. Banda Aceh: Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh.
Mulyono, Sri. 1991. Statistik Untuk Ekonomi, Jakarta: LPFE-UI
Simanjutak, Payaman J. 1985. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta. Lembaga Penerbit FE UI.
Sjafrisal. 2008. Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi, Padang. Praninta Ofset.
Syaukani, Afan Gafftar dan Ryass Rasyid. 2002. Otonomi Daerah Dalam Negara Kesatuan. Jakarta. Pustaka Pelajar.
Tarigan, Robinson. 2005. Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi, Edisi Revisi. Jakarta. Bumi Aksara.
Todaro, Michael P. 2000. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga, Edisi Ketujuh. Jakarta. Erlangga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s